Kandidat seperti apa yang dicari oleh beasiswa LPDP?
- Shanti
- Dec 5, 2024
- 4 min read
Akan kujawab berdasarkan analisis subjektif terhadap proses, usaha, latar belakang, dan apa yang aku lakukan saat seleksi hingga aku mendapatkan beasiswa tersebut. To put it simply mungkin menerapkan: baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung (haha)
Tidak neko-neko
Sampai saat ini aku masih terkadang bengong di suatu waktu dan heran kenapa aku yang freshgraduate ini bisa lolos one-shot ke luar negeri. Menurutku jawabannya adalah pengalaman yang aku cari saat kuliah. Ketika aku menyatakan aku memang peduli dengan literasi di Indonesia, ada beberapa pengalaman yang mendukung pernyataan tersebut.
Salah satu hal yang tidak bisa dimanipulasi adalah pengalaman yang kita capai. Pengalaman yang membuat kita bertumbuh dan menjadi siapa kita saat ini. Saat ini aku sedang di Melbourne dan aku semakin sadar, bahwa ya, pengalaman tidak bisa bohong. Justru hal ini yang aku terkadang khawatirkan dari beberapa orang yang aku bantu interviewnya, yang menjadi masalah bukan esai maupun passion yang mereka miliki terhadap permasalahan Indonesia tapi bagaimana meyakinkan pihak LPDP jika kita tidak menunjukkan bahwa kita mengikuti berbagai event atau usaha untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Hal-hal seperti ini tidak bisa hanya asal tulis di esai, namun memang harus dijalani dan dialami dan ini memerlukan waktu lama. Tidak singkat. sehingga sangat sulit jika kita sudah berencana berbohong terkait pengalaman atau pencapaian kita dalam hidup. Contohnya foto di bawah ini, tidak bisa dimanipulasi dalam waktu singkat hanya dengan mengutarakan kebohongan di tulisan maupun di ucapan. Terlebih banyak hal detail yang tidak akan bisa diceritakan oleh orang yang tidak pernah mengalami pengalaman spesifik tersebut.

Humble, grounded, tidak sombong
Oke, betul, jika memiliki banyak pengalaman tentu akan merasa semakin tinggi atau hebat. Terkadang membedakan perlakuan seperti kasus yang baru saja terjadi terkait merendahkan orang yang metode mencari nafkahnya berbeda dari dirinya. Intinya aku selalu menekankan, aku sadar, aku mencapai semua hal tersebut bukan hanya kerja kerasku seorang diri. Ada faktor keberuntungan, campur tangan Tuhan, campur tangan doa orang tuaku, modal yang diberikan orang tuaku, dan berbagai kebebasan yang kita biasa sebut priviledge yang tidak aku sadari, yang mendukungku untuk bisa fokus kuliah sembari mencari semua pengalaman tersebut selagi kuliah. Jika tertarik kalian bisa membaca blog ku terkait meritokrasi dan priviledge dalam perspektifku.
Rajin menabung
Terutama jika mau ke luar negeri. Aku bersyukur mendapatkan beberapa internship semasa kuliah dan mengadakan les maupun sampingan dubbing yang memberiku tambahan uang untuk kutabung. Berikut beberapa hal yang tidak ditanggung LPDP meski pada akhirnya tetap ditanggung menggunakan uang kedatangan (bagi yang tidak paham ini apa bisa di googling atau cek: https://lpdp.kemenkeu.go.id/storage/awardee/penerima-beasiswa/panduan/document/guide_document_1702603801.pdf )
Daftar Unimelb (2x karena kesalahan sistem) 2.6 juta
Tes IELTS (thank God 1x coba) 3,1 juta
Paspor 350 ribu
Modal awal visa + OHSC (asuransi) 15 juta
Modal awal tiket ke Melbourne 5 juta
Modal awal apartemen sekitar 30 juta (karena ada tambahan bond)
Sembari aku menghitung dan menulis blog ini, anjir banyak juga ya (haha). Totalnya sekitar 56 juta. Mungkin jika negara tujuan berbeda akan berbeda juga ya hasilnya. Belum lagi jika teman-teman ingin ikut les atau segala halnya. Akan ada tambahan biaya dan tentunya bukan tanggung jawab dari LPDP untuk membayarkan hal tersebut.
Tapi buat temen-temen yang baca terus ciut, menurutku tidak ada pilihan yang mengubah hidup yang tidak beresiko. Akan ada resiko, seperti halnya aku, seorang freshgrad kok langsung berani S2, apa tidak takut tidak bisa mengikuti pelajaran? apa tidak takut tidak berguna nanti tidak dipakai gelarnya? takutlah (haha) ya tapi namanya juga pilihan hidup, dan benar pilihan ini merubah diriku secara cukup signifikan. Sehingga wajar jika dibalik pilihan ini ada beberapa resiko yang harus aku hadapi. Yang penting tahu resiko dan bisa memitigasi resiko tersebut.
Dapat menunjukkan rasa cinta pada Indonesia
Aku sangat menyukai hampir semua hal tentang Indonesia, termasuk yang orang-orang sering keluhkan (macet, pendidikan belum maju, dsb.). Tapi justru itu yang membuat Indonesia, ya Indonesia. Itulah Indonesia. Terlebih dalam kebanyakan hal aku merasa mengeluh itu tidak merubah sesuatu, jadi lebih baik berpikir bagaimana cara membuat nyaman atau lebih baik.
Intinya, perasaan tersebut mungkin keluar dengan sendirinya saat wawancara. Sampai sekarang, aku sudah rindu sekali dengan rumah. Aku rindu ayam geprek, lalapan, soto, sate, blayag, plecing kangkung, loh kok makanan semua ya (haha). Tapi selama aku mengeksplor daerah wisata disini, maaf sekali tapi pikiranku tetap berpikir "lebih bagus Labuan Bajo", "lebih bagus pantai deket rumah", "kayaknya Raja Ampat lebih bagus deh". Mungkin pola pikir ini salah ya, seharusnya aku tidak membanding-bandingkan dan semua tempat indah dengan caranya sendiri. Tapi saat ini itulah yang aku rasakan. Kurangnya variasi makanan, tempat, dan yang paling penting adalah budaya. Bersyukur sekali disini aku dapat menampilkan budaya Indonesia bersama tim penari Melbourne yang dipimpin oleh Firsta Rahadatul 'Aisy (orangnya keren banget plis cek ignya) dimana ia juga memimpin latihan tari Enggang Babalian yang kami tampilkan saat PK.
Intinya adalah untuk jujur dengan diri sendiri, menyadari kelebihan dan limitasi kita dan tidak menutupi hal tersebut saat wawancara maupun menulis esai. Semoga tulisan ini memberikan insight baru buat kalian. Maaf aku jadikan kesempatan berbagi pengalaman menari di Melbourne (haha). Menekankan bahwa budaya Indonesia itu memang the best (in my opinion).

Comments