top of page
Search

Meritokrasi dan ferguso

  • Writer: Shanti
    Shanti
  • Mar 15, 2024
  • 4 min read

Belakangan ini banyak sekali yang memberikan ungkapan selamat maupun mengatakan bahwa keren sekali karena aku sudah berjuang dengan keras. Bukan maksudku untuk menyetujui aku tidak berusaha, namun setelah mempelajari meritokrasi di kelasku, perlu rasanya aku membahas hal ini. Meritokrasi adalah kepercayaan bahwa usaha akan selalu terbayarkan. Usaha = hasil. Jika berusaha dengan keras maka kita pasti akan berhasil.


Sounds logical and nothing is wrong right?


Sebetulnya jika didalami dengan lebih dalam, khususnya sebagai pendidik (educator), bayangkan jika kita berada dalam suatu kelas. Satu dan dua murid sangat berprestasi dan bisa memenangkan lomba bermain piano dan bahkan diundang menghadiri konferensi di Singapura (contoh ini hanya fiksi). Apakah murid-murid lainnya bisa kita katakan mereka tidak berusaha sama sekali sehingga tidak bisa se-berprestasi mereka?

Dalam meritokrasi yang menjadi masalah adalah ketika keberhasilan seseorang, dinilai hanya karena usaha mereka seorang diri.

Apalah itu priviledge, kita abaikan latar belakang orang tua mereka yang mampu membayarkan tiket pesawat dan biaya hidup seminggu di Singapura, kita abaikan bahwa ia membayar hingga jutaan rupiah untuk les piano, kita abaikan bahwa pribadi anak tersebut memang suka berkompetisi dan fokus belajar, kita abaikan bahwa ia memiliki piano yang super bagus di rumahnya.


Semoga dari contoh tadi mulai terlihat dimana masalah meritokrasi bukan? Aku akan menambahkan sedikit lagi: Meritokrasi jika kita ketik di Mr. Google, menyatakan "Meritokrasi adalah sistem politik yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi" jadi tidak bergantung pada kekayaan atau kelas sosial dan menilai dari hasil kerja/usaha dinilai dari pengujian atau pencapaian.


Seemed flawless ya, wah bagus tidak melihat status sosial, artinya semua yang berusaha akan mendapatkan kesempatan sama rata. Namun jika kita lihat prakteknya, tidak semudah itu ferguso. Pada kenyataannya, khususnya dalam konteks edukasi, meritokrasi perlahan berubah menjadi parentokrasi.


Parentokrasi adalah sistem dimana semakin kaya orang tuamu maka semakin sukseslah anakmu.


Now, that seems realistic in Indonesia, right? Well, almost everywhere, to be honest.

Masalah meritokrasi dan parentokrasi terjadi ketika yang berhasil mulai melihat dan merendahkan orang yang belum seberprestasi mereka sebagai orang yang tidak berusaha. Bahkan akan sangat buruk jika melihat orang yang belum berhasil sebagai malas atau mereka tidak berharga. No, no, no, banget. Dampak psikologis dari yang belum berprestasi juga menjadi fixed mindset.


"Wah iya ya si Fleur de Lux memang berusaha dan belajar dengan keras, apalah aku yang belum bisa se-berprestasi dia, aku memang belum berusaha sekeras dia, aku memang seseorang yang gagal"


Oof sounds so depressing. But believe me I was in that position. Padahal kalau melihat dari kacamata lain, Fleur de Lux memang secara finansial tidak bermasalah, ia juga merupakan warga mayoritas di daerah tersebut (bukan minoritas) sehingga tidak mengalami diskriminasi, dan masihhhhh buanyaaaaakkkkk faktor lainnya.


Kembali lagi ke keberhasilanku lolos LPDP sebagai awardee, apakah artinya pure usaha kerasku saja yang membuatku lolos? tentu tidak ferguso.

Namun apakah artinya orang tua ku sangat lah kaya raya hingga aku dengan mudah menggapai semua pencapaianku? tentu tidak ferguso


Aku berasal dari keluarga menengah dan terkadang hampir merosot kebawah haha. Namun priviledge yang aku punya adalah mereka berdua lulusan S1 dan merupakan sosok yang sangat peduli dengan pendidikan. Mereka lah yang mendukungku untuk segera S2 sebelum bekerja tetap disaat mungkin banyak orang tua lain ingin anaknya bekerja terlebih dahulu. Apakah artinya buruk jika orang tua ingin anaknya bekerja dulu? ya tidak dong.

Karena aku bisa dikatakan sebagai seorang freshgraduate, jika dibandingkan dengan kandidat-kandidat lain di universitasku kini tentu aku masih sangat minim pengalaman. Semua pilihan ada resikonya ferguso. Akan ada hal positif dan negatif dalam keputusan yang diambil.


Selain dari mindset orang tua yang aku sangat syukuri, selama di universitas aku juga aktif bervolunteering. Memang pada dasarnya aku senang menjalani kegiatan sukarelawan karena aku merasa berguna, mendapat teman baru, belajar hal baru, dan bahkan terkadang jalan-jalan ke tempat yang bagus ditengah kesibukan kuliah. Bagiku bersukarelawan adalah kegiatan yang nothing to lose. Namun jika kita bandingkan dengan kita sebut saja Lancelot, mungkin Lancelot tidak suka bersukarelawan karena baginya melelahkan, membuang waktu, dan tidak merasakan manfaatnya. Ia lebih suka melakukan sesuatu dan dibayar karena baginya itulah yang adil. Nothing is wrong with that, sekali lagi hanya beda kepribadian. Namun, karena aku sering bersukarelawan, disitulah juga aku menemukan passionku di literasi. Kebetulan juga LPDP merupakan beasiswa yang cocok denganku karena memang mencari orang yang peduli dengan Indonesia dan ingin menjadi agent of change.


Banyak sekali juga pengalamanku seperti menjadi pembicara di Global Youth Conference, disebabkan karena banyak sekali faktor. Salah satu faktornya karena aku senang bersukarelawan dan sudah lama menjadi sukarelawan GYC. Faktor lainnya karena saat itu memang GYC mempercayakan aku menjadi pembicara, entah apa yang memicu founder GYC untuk memilihku. Kebetulan juga di hari yang ditentukan aku tidak ada kegiatan lainnya. Banyak sekali faktor-faktor diluar kendaliku.


Okay lalu apakah kita harus berserah diri dengan bergantung pada priviledge yang kita punya ataupun keberuntungan yang kita miliki? aku suka kamu selalu bertanya ferguso!


Kesimpulannya adalah it takes balancing between playing with our cards (priviledge) dan berusaha sebaik mungkin but, I would also like to remind us to know our cards. Keep doing our best, and of course, sesuai sila Pancasila pertama, jangan lupakan untuk berdoa pada-Nya.


 
 
 

Recent Posts

See All
Melbourne Things no Awardee told me

Transportasi mahal banget disini 5-10 dollar untuk trip bolak-balik kampus-rumah. Saking mahalnya penduduk sekitar menormalisasi evading...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Instagram

©2020 by Shanti Yuliastiti. Proudly created with Wix.com

bottom of page